Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

Jodoh untuk Lintang


Oleh: Gemintang Halimatussa’diah


      Lintang tampak mengernyitkan dahinya. Apakah semua yang dikatakan ibu-ibu itu benar adanya? Bagaimana bisa ya hal itu terjadi? Pikirnya dalam hati.
  “Kenapa mesti bingung sih, Bu Lintang. Ditanya-tanya terus sama pria muda yang ganteng seperti Pak Arga kok malah terlihat bingung seperti itu?” tanya Bu Hera salah satu teman seprofesi Lintang di SMP Suka Harapan tempatnya bekerja.
     Ya, mungkin ada benarnya apa yang disampaikan Bu Hera itu. Arga adalah sosok pria muda bertubuh tinggi tegap dengan wajah yang cukup tampan. Usianya lebih muda empat tahun dibanding Lintang. Mungkin seharusnya ia memang merasa tersanjung mendapati kenyataan bahwa laki-laki itu kini tengah mendekati dirinya. Namun, untuk memilih jodoh, tentu saja bukan hanya perkara tampilan fisik semata bukan? Hal itulah yang kini membuat resah hati Lintang. Terlebih, Lintang hanya menganggap Arga sebagai teman kerja biasa.

(*)
          “Bu, Pak Arga tanya lagi tuh ke saya. Ibu sudah punya calon atau belum?” Diiringi kedipan mata, Bu Lia bertanya pada Lintang.
          “Bilang saja, calon sih sudah ada, tapi masih belum dipertemukan. Yang pasti, namanya sudah tertulis di Lauhul Mahfuzh.” jawab Lintang sekenanya. Hal itu membuat Bu Lia memonyongkan mulutnya. Ya, banyak teman kantor yang sangat mendukung perjodohan Lintang dengan Arga. Mungkin hal itu didorong keinginan mereka untuk dapat melihat Lintang segera memiliki pasangan. Maklum, di sekolah itu memang hanya Lintang dan Arga yang masih single.
          Awalnya, Lintang memang masih merasa tak terganggu dengan perjodohan itu. Namun, sejak Arga berani menelepon dirinya dengan mengeluarkan kata-kata mesra, rasanya Lintang tak tahan lagi. Ia pun lantas berterus terang pada rekan kerjanya itu.
         “Maaf, Pak. Mohon jangan telepon saya lagi jika hanya ingin mengeluarkan kata-kata rayuan semacam itu.”
        “Loh, memangnya kenapa, Say? Kata Bu Lia dan Bu Hera, kamu belum punya calon, kok.” tanya Arga dari seberang telepon sana.
      “Tapi bukan berarti saya mau menerima kata-kata rayuan seperti itu. Sekali lagi maaf, Pak Arga. Selama ini saya masih menghargai Bapak karena Bapak adalah rekan kerja saya. Tapi, kalau hanya untuk menanyakan hal-hal tidak penting,  apalagi ditambah rayuan segala, mohon maaf lebih baik tak perlu menelepon saya lagi.”

Hening sejenak.

      “Memangnya, Bu Lintang tidak ingin mendapat jodoh? Saya memang tadinya ingin berpacaran dengan ibu. Ibu nggak suka ya sama saya?”
        Apa? Pacaran? Bukan. Sama sekali bukan cara itu yang kuinginkan untuk menemukan jodoh. Meski usiaku sudah semakin dewasa, aku tetap tak berpikiran untuk melakukan hubungan yang dilarang oleh Allah itu. Benar saja perkiraanku. Dia memang bukanlah tipe laki-laki yang tepat untukku. Batin Lintang.
       “Sekali lagi, mohon maaf, Pak. Saya tidak bisa, sebab saya tidak ingin melakukan hubungan pacaran. Saya harap Bapak dapat memahami hal itu,” jelas Lintang kemudian.

Lagi-lagi terasa hening, kali ini dalam beberapa jenak.

       “Oke.” Hubungan telepon pun terputus usai kata itu dilontarkan oleh Arga. Entah bagaimana jadinya hubungan mereka usai percakapan itu. Lintang tak mau ambil pusing lagi. Yang terpenting baginya, ia telah menyatakan sikap untuk tak lagi terjebak dalam proses perjodohan yang sama sekali tak diinginkannya. Biarlah ia menunggu sosok yang tepat itu datang pada waktu dan cara yang tepat pula.



  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

11 komentar:

vera astanti mengatakan...

hemmm hemmm hemmmmm >.<

Nana Ardana mengatakan...

wah..wah...nama tokohnya nama anakku semua lho mba...kok bisa ya...hehehe

Senarai Morfem Gemintang mengatakan...

Kenapa ni Vey? Heu2.. :P

Senarai Morfem Gemintang mengatakan...

Oya? Wah, kebetulan sekali ya mbak...heu2.. :)

sekedar mampir mengatakan...

*_*' Labelnya harusnya True story tuh ya... akhem

Senarai Morfem Gemintang mengatakan...

Wah, ini banyak ramuan fiksinya kok, heu2... ^^

Lulu mengatakan...

cikiciwww bu lintanggg

Senarai Morfem Gemintang mengatakan...

Kenape ni Nci Luluuu? heu2.. :D

S. Mursalim (NoorSalim Hs) mengatakan...

Tapi terkadang jodoh untuk prp itu harus dijemput, tidak menunggu jemputan.
Maksudnya harus nempuh usaha juga, tentu saja lewat jalan yg diperbolehkan Islam.. :)

Nahlatulazhar Mardiyah mengatakan...

ah, knapa musti pacaran sih pak arga? pikir bu Lintang hehehhe

Senarai Morfem Gemintang mengatakan...

@Mursalim, ya betul sekali. Tapi sebagai perempuan, rasanya ia akan merasa lebih berharga jika didatangi, bukan sebaliknya.,heu2..

@nahlatulazhar, Heu2.. beda prinsip sih ya.. :D

Posting Komentar

KAWANS ^^

Entri Populer